Jumat, 09 Desember 2011

Demam Kelapa Sawit, Musnahkan Keanekaragaman Hayati


Ketidakjelasan hukum mengenai pelanggaran pengrusakan hutan cukup mirasaukan. Pasalnya, hal tersebut menjadi trigger para pengusaha nakal untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa harus takut menanggung biaya recovery hutan yang cukup tinggi. Implikasinya, ratusan lahan hutan dikonversi menjadi ladang kelapa sawit. Para pelakunya tentu saja adalah para pengusaha yang telah mengantongi izin dari Kemenhut RI. Daerah hutan tropis kalimantan seluas ratusan hektar rata dengan tanah pada tahun 2000-2005, ratusan  orang utan musnah, begitu pula dengan wawa dan lainnya.
Dari sisi ekonomi, kelapa sawit memang menjadi andalan devisa negara. Bahkan tercatat konsumsi 1/3 dunia terhadap kelapa sawit disupport dari indonesia. Namun, permasalahannya adalah bagaimana pemerintah jeli dengan efek domino penanaman sawit yang kita kenal dengan tanaman yang merusak struktur aliran air tanah. Kita tahu juga bahwa sawit sejatinya membutuhkan lahan yang tidak sedikit, maka sebaiknya dalam proses pemetaan bisnis tersebut harus dihitung kerusakan hayati yang akan terjadi. Sterilisasi lahan dari hayati sangat penting dilakukan. Jangan sampai keaneka ragamanan hayati kita menjadi korban efek domino. Faktanya tidak, para pengusaha sawit yang telah mengantongi izin pengelolaan hutan bebas membakar hutan, membantai orang utan dan mamalia lainnya yang mereka anggap hama lahan sawit. Pertanyannya, siapa yang paling bersalah? Pemerintahkah atau korporasikah?
Hentikan tindakan klepto-korporasi dan patrimornial berbasis lahan sawit. Anda tahu tidak bahwa sekaranh ini banyak yayasan lingkungan yang aktivitas kesehariaannya melakukan konservasi lingkungan dan hayati di kalimantan dan sumatera digagas oleh oleh pemerhati lingkungan asing. Tentu anda terperangah, sebut saja yayasan Kawalelt Care Centre, pendirinya adalah seorang anak muda dari Francis yang menangis dengan kebakaran hutan di kalimanta dan terlah memusnahkan wawa kalimantan. Kemudian ada juga yayasan Orang Utan International Care Centre yang masih bermarkas di Kalimantan yang didirikan oleh seorang bapak dari Inggris. Para pemerhati kita hanya menjadi analisator lingkungan, berkutat di kantor perkotaan dan enggan terjun ke hutan dan melestarikan hutan secara langsung.
Pada kesempatan ini, saya menggoda dan merayu anda untuk berteriak pada semua orang untuk MARAH pada siapa saja yang berusaha untuk merusak kekayaan hayati kita. Mari kita MARAH pada pemerintah, MARAH karena orang utan, wawa, macan utan dan lainnya mati dan hampir punah karena KESEMBRONOAN dan KESERAKAHAN.
CUKUP SAMPAI DISINI DEFORESTASI HUTAN!!!

Related Post